loading...
loading...

Munafik adalah kata yang paling cocok untuk menggambarkan keadaan di mana pikiran dan tindakan orang tertentu, berbeda 180 derajat.
Munafik adalah esensi dalam berpolitik bagi kubu mereka. Mungkin karena tuntutan, mereka harus melakukan kemunafikan.
Kita melihat bagaimana selama ini, Fahri Hamzah dan Fadli Zon begitu keras dan nyinyir terhadap Joko Widodo. Presiden Jokowi begitu dikritik tanpa alasan.
Tapi ketika diundang oleh Jokowi di Istana, tindakan dan perangai mereka berbeda, 180 derajat. Benar-benar… Jadi munafik dan bermuka dua itu berat. Apalagi di bulan puasa ini. Biar Fahri dan Fadli saja.
Di belakang Jokowi, orang-orang ini begitu keras bahkan sempat terlontar kata “Sinting” oleh Fahri ketika Jokowi memberikan satu hari Santri bagi para santri yang butuh diperhatikan dan diberikan kesempatan untuk berkembang pada saat itu.
Tapi di depan Jokowi, ketika diundang ke Istana untuk buka bersama, orang ini malah terlihat begitu cair. Mungkin esensi yang ada di dalam dirinya adalah “munafik”.
Kenapa munafik? Karena di belakang dan di depan, berbeda haluan. Esensi politik atau etika politik orang ini bisa dikatakan sebagai etika politik munafik.
Bahkan Fahri Hamzah melalui koar-koar di acara gak jelas nomor togel, sempat melakukan provokasi kepada rakyat, meminta untuk parlemen jalanan bertindak. Apa yang diucapkan Fahri ini sudah begitu mendiskreditkan Jokowi.
Menghina sinting, dan mengancam untuk melakukan tindakan parlemen jalanan. Padahal dia sendiri ketika bertemu atasan, bertemu presiden langsung, Jokowi membuat dirinya tersenyum.
Mau salahkan Jokowi lagi? Manusia ini pada dasarnya adalah manusia yang munafik. Bermuka dua.
He try to please everyone. And he never realize that the world doesn’t work that way.
Sekarang bicara juga Fadli Zon. Di belakang Jokowi, Fadli Zon adalah salah satu orang kepercayaan Prabowo yang juga memengaruhi keputusan Prabowo.
Fadli Zon juga di balik cuitan Twitter, melakukan provokasi gila-gilaan.

Orang ini di Twitter melakukan proses delegitimasi terhadap pemerintah yang sah. Dia juga melakukan proses delegitimasi terhadap pelaksana pemilu. Dia mendiskreditkan KPU. KPU yang mereka ciptakan sendiri, yang komisionernya mereka pilih sendiri. Di sanalah Fadli Zon berkoar.
Manusia yang pernah nyekar ke makam Bapak Komunis Indonesia sambil melemparkan senyum lebar, adalah orang yang juga dibuat tidak berdaya di hadapan Jokowi. Munafik.
Manusia-manusia ini memiliki etika politik munafik. Jadilah apapun yang diminta oleh keadaan, niscaya mereka percaya bahwa mereka akan hidup dan terus kaya.
Ini adalah jalan pikiran yang salah. Beradaptasi dan munafik itu beda total. Beradaptasi adalah mencocokkan diri kepada situasi.
Kalau munafik itu mencocokkan diri karena ketakutan karirnya dihancurkan. Inilah perbedaan antara munafik dan adaptasi.
Jadi omong kosong jika Fadli dan Fahri berdalih bahwa mereka sedang beradaptasi. Beradaptasi untuk bertahan hidup karena situasi yang keras.
Tapi kalau munafik itu, untuk bertahan hidup karena situasu. Jadi mau bagaimanapun juga, saya begitu tidak respek terhadap Fadli dan Fahri.
Di hadapan Jokowi mereka terlihat begitu sok mendukung. Ini bukan bicara bulan Ramadan harus munafik bukan?
Bulan Ramadan, justru kita harus terbuka dan justru harus menahan dari segala kemunafikan.
Mungkin esensi atau etika politik mereka memang begitu. Coba kita lihat bagaimana junjungan mereka, Prabowo. Di belakang Jokowi, dia teriak-teriak bahwa ada kecurangan pemilu dan lain-lain. Tapi kalau di depan Jokowi, orang ini malah sok teduh dan terlihat begitu sok menjadi cair.

Ini adalah sifat bermuka dua.
Mungkin Fadli Zon, Fahri Hamzah ini harus belajar dari PSI. PSI tidak munafik. PSI tidak bicara A lalu bertindak B. Di depan Jokowi, PSI mendukung Jokowi. Di belakang Jokowi, PSI juga tetap konsisten. Bukan di belakang Jokowi, menghina Jokowi dengan makian sinting, tapi di depan Jokowi, malah tersenyum tunduk dan beri hormat.
Ini adalah sebuah kemunafikan yang hakiki. Sudah lah, munafik dan bermuka dua itu berat. Biar Fadli dan Fahri saja. Sebentar lagi mereka akan terpisah. Rakyat sudah mengamputasi satu F dari DPR. Semoga DPR-RI semakin cerah dengan ketiadaan satu F ini.
Begitulah muna-muna.
#JokowiMenang
loading...
0 Response to "Jadi Munafik itu Berat, Biar Fahri Fadli Saja"
Posting Komentar