loading...

Kekalahan Prabowo Dan Kemenangan Jokowi ‘Dikonfirmasi’ Demokrat

loading...
loading...




Kalau masih ada pendukung Prabowo pasang badan menjaga baliho dan spanduk ucapan selamat atas kemenangan Prabowo, kita tertawakan saja sampai mereka lupa ke kantor lalu dipecat nantinya. Kalau ada pendukung Prabowo nangis-nangis di depan baliho dan spanduk kemenangan Prabowo sambil nyembah-nyembah, kita biarkan saja sampai air mata mereka habis untuk menangisi sesuatu yang mereka tidak ketahui. Kalau ada sekelompok orang menyatakan siapa mati mempertahankan kemenangan Prabowo 62% dan melawan kecurangan sambil pegang bambu runcing dan parang, kita elus dada saja sambi berdoa semoga Allah menghardik kedunguan mereka.

Menang atau kalah dalam Pilpres, bukan ditentukan sebanyak apa orang berani pasang badan mempertahankan baliho; bukan ditentukan sebanyak apa spanduk dan baliho didirikan di mana-mana; bukan sekeras apa teriak dicurangi; bukan sesiap apa mati demi membela kemenangan, melainkan seberapa banyak suara sah yang memilih capres-cawapres. Dan sejauh ini, menurut situng KPU, Jokowi masih unggul 56,31% suara atas Prabowo yang hanya 43,69%.

Bahwa BPN dan kampret-kampretnya teriak kubu sebelah curang, sudah biasa pihak yang kalah menuduh pihak yang menang melakukan kecurangan. Toh bukan Kali ini saja mereka bersikap seperti itu. Jangan lupakan sujud syukur pada 2014 lalu.

Bahwa ada kecurangan dalam Pemilu, bukan berarti itu dikehendaki dari pusat. Buktinya pengamanan ribuan formulir C1 palsu dari Kabupaten Boyolali yang menguntungkan 02 itu belum tentu kecurangan yang dilakukan kubu 02 untuk menggelembungkan suara Prabowo. Masih butuh penyelidikan.

Bahwa tuduhan kecurangan yang diarahkan ke kubu 01 belum terbukti, pun juga belum ada kepastiannya. Masih butuh kesabaran dan waktu untuk memastikan apakah ada kecurangan atau tidak. Tentu tidak seperti membalikkan telapak tangan.

Tetapi yang perlu kita perhatikan adalah hasil situng KPU dan penghitungan manual berjenjang yang sedang berproses. Kalau soal ini Jangan sampai main-main, harus dikawal sedemikian rupa agar tidak ada kecurangan yang terjadi.

Siapa pun yang curang, pada saatnya akan ketahuan juga. Sepintar-pintarnya BPN menyembunyikan penghitungan internal mereka, pada waktunya Andi Arief juga akan membongkar kalau klaim kemenangan 62% itu hanya bisikan dari si setan gundul. Inilah bukti bahwa klaim mereka tidak punya dasar apa-apa.

Tidak apa-apa kubu 02 mengklaim menang. Toh dalam kenyataannya 01-lah yang menang, mulai dari quick count sampai situng. Bahwa ada yang tidak percaya, itu hak mereka sebagai manusia yang dikuasai rasa curiga mereka.


Toh koalisi yang sekarang sedang gaduh sejak pencoblosan adalah koalisi 02. Mulai dari deklarasi berkali-kali Sambil sujud syukur sampai mengadakan ijtima ulama, semua dilakukan dan digembar-gemborkan koalisi 02.

Yang melancarkan lobi-lobi politik dengan sangat gencar, juga dilakukan koalisi 02 ke koalisi 01. Mulai dari Zulkifli Hasan sampai AHY-lah yang bersilaturahmi ke Presiden Joko Widodo. Silaturahmi ini pulalah yang mengubah geliat politik Demorkat akhir-akhir ini.

Yang menolak dan berbeda-beda padangan soal quick count juga koalisi 02. PKS percaya hasil quick. PAN juga begitu. Demokrat juga apalagi. Yang tidak percaya quick count hanya Gerindra dan kalangan PA 212. Kubu 01 hanya sebagai penonton saja.

Yang tidak mau terbuka ke publik terkait penghitungan suara, ya kubu 02. Mereka memaksa lembaga quick count buka data. Setelah dibuka, mereka sendiri tidak berani datang. Real count internal mereka sendiri tidak mau dibuka ke publik. Yang dituduh curang sudah buka-bukaan, yang menuduh malah ngumpet. Kan gendeng.

Praktis, semua kegaduhan yang terjadi di negara ini sejauh ini terkait Pilpres hanya ada di 02. Bahwa kubu 01 mengambil keuntungan dari kegaduhan itu, ya itu bonus saja. Siapa juga yang mau membuang kesempatan, ya kan.

Rakyat tidak perlu gaduh dan gundah gulana. Ketika Demokrat sudah mulai bermanuver apalagi membangun komunikasi ke Jokowi dan koalisinya, itu artinya Prabowo sudah benar-benar kalah. Sebab Demokrat tidak mau menghilangkan kesempatan untuk bergabung dengan koalisi 01 ketika mereka punya kepentingan politik ke depannya. Sementara di koalisi 02 mereka tidak punya pegangan apa-apa. Klaim kemenangan 62% saja dibisiki setan gundul, gimana mau dipercaya.



loading...

0 Response to "Kekalahan Prabowo Dan Kemenangan Jokowi ‘Dikonfirmasi’ Demokrat"

Posting Komentar